Namun, kepada tamu ketiga, ia berkata, "Orang yang berdosa besar, karena pengampunan Tuhan sebanding dengan besar dosa yang dilakukan." Setelah ketiga tamunya pergi, murid Abu Nawas bertanya, "Guru, mengapa jawabannya berbeda-beda?"
Abu Nawas tersenyum. "Karena manusia itu berbeda-beda. Ada yang hanya melihat dengan mata, ada yang berpikir dengan otak, dan ada yang merasakan dengan hati. Aku memberikan jawaban sesuai dengan pemahaman mereka
Lalu, sang murid bertanya lagi, "Guru, mungkinkah manusia bisa menipu Tuhan?" "Mungkin," jawab Abu Nawas sambil tersenyum. "Caranya dengan merayu-Nya melalui doa." Abu Nawas pun mengajarkan doa sederhana, namun penuh makna: Ilahi lastu lil firdausi ahla, wala aqwa alannaaril jahimi. Doa ini menjadi pengingat bahwa manusia tidak pernah sempurna, tapi Tuhan selalu membuka pintu maaf bagi siapa saja yang memohon.