Emas, yang dilihat sebagai aset safe haven di masa-masa yang tidak pasti, telah melonjak 31% tahun ini, di tengah risiko geopolitik dan pembelian bank sentral yang kuat. Bank sentral China menambah cadangannya selama enam bulan berturut-turut pada bulan April.
"Saya pikir sebagian besar (jatuhnya harga emas) adalah China dan AS yang bersatu untuk melakukan pembicaraan tarif. Pengumuman The Fed tampaknya sangat netral dari apa yang dikatakan Powell saat ini, jadi tidak ada kejutan di sana," ujar Daniel Pavilonis, ahli strategi pasar senior di RJO Futures.
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan kepala negosiator perdagangan Jamieson Greer dijadwalkan bertemu dengan pemimpin ekonomi China He Lifeng di Swiss akhir pekan ini, sebuah langkah yang dipandang sebagai terobosan potensial dalam menyelesaikan ketegangan perdagangan. dilansir cnbcindonesia.com