Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) mencatat produktivitas Indonesia hanya sepertiga dari rata-rata negara anggota.
“Selain jumlah tenaga kerja yang besar, kita juga perlu memastikan kualitas dan produktivitas mereka agar mampu bersaing secara global,” ujarnya.
Lebih lanjut, Shinta menambahkan bahwa tantangan global seperti Revolusi Industri 4.0 dan digitalisasi membuat kebutuhan keterampilan baru semakin mendesak.
“McKinsey Global Institute memperkirakan pada 2030, hingga 23 juta pekerjaan di Indonesia akan terotomatisasi jika tenaga kerja tidak dilengkapi keterampilan baru. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga dunia usaha, akademisi dan masyarakat,” tegas Shinta.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI Stella Christie, menekankan pentingnya mendorong perguruan tinggi menuju model research university.
“Kita harus bisa melihat apa sebenarnya data-data yang menunjukkan hubungan langsung antara pendidikan tinggi dan pertumbuhan ekonomi. Universitas berbasis riset itulah yang menghasilkan inovasi baru. Misalnya Stanford University mampu menciptakan nilai ekonomi hingga 3 triliun dolar AS per tahun,” kata Stella.
Ia mengungkapkan pihaknya telah memetakan riset unggulan di berbagai universitas di Indonesia. Peta tersebut diharapkan memudahkan dunia usaha bekerja sama dengan peneliti.