Beranda Feature Kepulangan Emosional Warga Lebanon ke Rumah Mereka di Zawtar al-Gharbiyah

Kepulangan Emosional Warga Lebanon ke Rumah Mereka di Zawtar al-Gharbiyah

Seorang pria bekerja di antara puing-puing rumah yang rusak di Al-Faouqa, Nabatieh, Lebanon selatan, pada 23 Juni 2026. (Xinhua/Ali Hashisho)

0
Xinhua

   Sejak Selasa (28/7) pagi waktu setempat, puluhan kendaraan telah berkumpul di pintu masuk barat kota itu, menunggu izin untuk masuk. Suasana dipenuhi perpaduan antara sukacita karena dapat kembali dan kecemasan untuk mengetahui apakah rumah-rumah yang mereka tinggalkan berbulan-bulan lalu masih berdiri.

   Sebagian warga membawa makanan dan air, bersiap untuk tinggal di sana. Sementara itu, yang lain menggenggam kunci rumah mereka, tanpa mengetahui apakah kunci itu masih akan membuka pintu menuju rumah yang mereka kenal atau hanya mengantarkan mereka ke tumpukan puing.

   Abed Ezzeddine, sang wali kota, menggambarkan kepulangannya sebagai pengalaman yang sangat mengguncang.

   "Saat saya masuk, saya bahkan tidak bisa lagi mengenali lokasi rumah saya sendiri," katanya. "Saya sudah tidak tahu lagi tumpukan puing mana yang dulunya adalah rumah saya."

   Survei awal yang dilakukan pemerintah kota menunjukkan sekitar 250 rumah hancur total, sekitar 200 rumah mengalami kerusakan berat, dan 40 rumah lainnya mengalami kerusakan ringan, papar Ezzeddine.

   Terlepas dari kehancuran yang terjadi, warga tetap bertekad untuk kembali, memandang kepulangan mereka sebagai penegasan atas ikatan abadi dengan kampung halaman mereka.

   Sambil berjalan di antara puing-puing rumahnya, Hussein Nehme (60) meratapi kehilangan yang lebih dari sekadar sebuah rumah. Menurutnya, yang telah lenyap adalah tempat yang selama ini membentuk kehidupan sehari-hari dan menyimpan kenangan-kenangannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here