Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan :
Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri...
Hadis ini menegaskan bahwa iman tidak cukup hanya diukur dari ritual ibadah, tetapi juga dari kepedulian sosial dan rasa cinta kepada sesama manusia.
Maka sesungguhnya, ‘Idul Adha adalah momentum untuk membangun kembali peradaban kasih sayang. Sebuah peradaban yang tidak menjadikan kekayaan sebagai alat kesombongan, tetapi sebagai sarana pengabdian sosial. Sebuah kehidupan yang tidak membiarkan rakyat kecil tersingkir di tengah gemerlap pembangunan.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia yang rela berbagi daripada sekadar pandai berbicara tentang kemiskinan. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang memiliki empati sosial, bukan hanya piawai membuat slogan kesejahteraan. Sebab sejarah telah membuktikan, ketimpangan sosial yang terus dibiarkan pada akhirnya akan melahirkan kemarahan sosial dan krisis kemanusiaan.
Karena itu, mari kita maknai ‘Idul Adha bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai gerakan moral untuk membangun keadilan sosial, memperkuat ekonomi umat, dan menumbuhkan kembali rasa persaudaraan di tengah masyarakat.
Sebab sejatinya, kelezatan daging kurban bukan hanya pada cita rasanya, tetapi pada air mata kebahagiaan mereka yang selama ini jarang merasakan nikmat kehidupan.