Beranda Kolom Fenomena Saham RANS: Antara Euforia, Kinerja Riil, dan Risiko Investasi Berbasis Public Figure

Fenomena Saham RANS: Antara Euforia, Kinerja Riil, dan Risiko Investasi Berbasis Public Figure

Sungguh sayang, gemerlap lampu panggung hiburan itu, gagal mempertahankan kilaunya di atas papan perdagangan saham.

0
Sumber foto : Jakob Jerdziki (pixels)

Meskipun posisi Rp 200 masih berada di atas harga penawaran awal (IPO) sebesar Rp 170 per saham, fenomena yang paling memprihatinkan adalah terjadinya eksodus massal investor ritel. Data Single Investor Identification (SID) mencatat bahwa pada saat IPO, saham RANS dikoleksi oleh 754.691 investor. Akan tetapi, menjelang akhir Juli 2026, jumlah pemegang saham menyusut tajam menjadi 188.225 SID saja.

Artinya, ada lebih dari 566.000 investor yang memilih melepas kepemilikan mereka secara serentak. Antrean jual (offer) di pasar reguler yang sempat menembus angka 1 juta lot menjadi bukti nyata betapa kuatnya tekanan psikologis pasar untuk segera menjual saham ini.

Kecenderungan Penurunan di Fundamental : Apa yang Terbaca Dari Prospektus?

Bagi investor yang jeli, koreksi tajam ini sebenarnya bukanlah kejutan sepenuhnya. Mengacu pada dokumen prospektus resmi yang dirilis melalui platform e-IPO, performa keuangan RANS sebelum melantai di bursa menunjukkan tren penurunan (downtrend) yang cukup signifikan dalam tiga tahun terakhir.

Pendapatan RANS tercatat terus menyusut dari tahun ke tahun. Pada tahun 2023, perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 437,81 miliar. Angka ini kemudian turun menjadi Rp 410,50 miliar pada tahun 2024, dan kembali merosot sebesar 13,91% menjadi Rp 353,38 milar pada akhir tahun 2025. Penurunan pendapatan terdrastis bersumber dari lini bisnis talent management dan brand ambassador yang anjlok hingga 51,55%.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here