CARAPANDANG - Bencana gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu menyebabkan kerusakan parah pada sektor pendidikan. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melaporkan bahwa 502 sekolah mengalami rusak berat akibat bencana tersebut.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam konferensi pers virtual bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis (20/8), menyatakan gempa berdampak pada 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten.
Dampak ini mencakup 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Kerusakan parah juga terjadi pada fasilitas penunjang seperti laboratorium, perpustakaan, dan rumah dinas guru.
Dari total 8.664 ruang kelas yang terdata, sebanyak 5.521 unit atau sekitar 63,7 persen dilaporkan rusak, dan 2.229 di antaranya masuk dalam kategori rusak berat.
Akibat kerusakan ini, proses belajar mengajar bagi lebih dari 1,1 juta siswa terganggu.
Sebanyak 923 satuan pendidikan terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar sementara, 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ), 35 sekolah menyelenggarakan kelas darurat, dan hanya 30 sekolah yang masih dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka.
Untuk memastikan kelangsungan pendidikan, Kemendikdasmen telah mendistribusikan 100 tenda ruang kelas darurat bagi sekolah-sekolah yang rusak berat, yang ditargetkan mulai digunakan minggu depan.