Dokter spesialis mata kering dan lensa kontak yang berpraktik di JEC Eye Hospitals itu mengatakan pada pasien mata kering dengan autoimun umumnya tidak hanya gejala mata yang ditemukan, namun juga ada gejala lain di tubuhnya, seperti mulut kering hingga nyeri-nyeri sendi.
Adapun keluhan mata kering secara umum seperti kemerahan, ada rasa panas, penglihatan yang mulai kabur atau sensitif terhadap cahaya hingga terlihat mengeluarkan air mata berlebihan.
"Rasa seperti mengganjal atau berpasir, gatel atau bahkan kelihatannya kok kelopaknya jadi kayak kurang simetris," imbuh dia.
Tak hanya fisik, mata kering yang tidak diobati dengan baik juga berdampak terhadap psikologis pasien berupa depresi. Menurut Niluh penderita masalah mata kering sering mengalami penurunan kualitas hidup.
"Mereka jadi tidak produktif, susah untuk ke mana-mana maunya di rumah, maunya matanya dimeremin aja. Lihat screen time dikit matanya langsung perih. Walaupun tidak buram, tapi itu sangat mengganggu kualitas hidup dari pasien dan akhirnya menjadi masalah juga ke finansial atau ekonomi mereka," imbuh dia.
Lebih lanjut, Niluh menambahkan tata laksana dalam penanganan masalah mata kering seperti pemberian obat-obatan atau terapi yang dianjurkan dari dokter, kompres hangat, mengurangi screen time hingga penggunaan humidifier untuk melembapkan ruangan. Namun, jika masalah mata kering dengan autoimun membutuhkan tata laksana yang lebih lama.