Sorotan lain dari lawatan tersebut adalah matca. Di wilayah Jiangkou, rombongan kaum muda tersebut mencicipi beragam kudapan berbahan dasar matca dan menyelami budaya "diancha", yakni seni mengaduk bubuk teh peninggalan Dinasti Song (960-1279).
Gui Tea Group, yang berbasis di Jiangkou, menjual lebih dari 2.500 ton matca pada 2025, dengan nilai output melampaui 500 juta yuan (1 yuan = Rp2.654). Perusahaan itu menyampaikan bahwa produk-produknya telah diekspor ke lebih dari 50 negara dan kawasan, termasuk Amerika Serikat, Jepang, dan Indonesia.
Pengalaman mencicipi matca juga meninggalkan kesan mendalam bagi Najwa. Sebagai seorang pencinta matca, dia mempelajari lebih lanjut mengenai proses produksi matca selama kunjungan tersebut, dan mengetahui bagaimana perbedaan suhu penyangraian dapat memengaruhi aroma dan cita rasa matca.
"Matca di China berbeda dengan yang pernah saya cicipi di Indonesia maupun Jepang, dan pemanfaatannya juga sangat luas -- tak sekadar untuk minuman, melainkan juga untuk biskuit, hidangan penutup, hingga kentang goreng matca," tutur Najwa.
Dia menuturkan bahwa di Indonesia, matca umumnya disajikan sebagai minuman di kafe-kafe, sementara ragam produk matca yang dia jumpai di China membuka matanya terhadap berbagai kemungkinan baru.