CARAPANDANG - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi Agustus 2026 secara tahunan (year-on-year) mencapai 3,19 persen, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Lonjakan ini terutama dipicu oleh kenaikan harga komoditas pangan.
Secara bulanan (month-to-month), inflasi tercatat sebesar 0,21 persen, berbalik dari deflasi 0,14 persen pada Juli 2026 . Indeks Harga Konsumen (IHK) pun naik dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Kelompok ini mengalami inflasi 0,57 persen secara bulanan dengan andil 0,17 persen terhadap inflasi nasional.
"Daging ayam ras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,17 persen. Kemudian cabai rawit, ikan segar, dan beras masing-masing memberikan andil 0,02 persen," ujar Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Peningkatan inflasi pangan ini turut mendorong komponen harga bergejolak (volatile food) melonjak menjadi 4,06 persen secara tahunan, dari 2,52 persen pada Juli 2026. Sementara itu, kelompok transportasi justru mengalami deflasi 0,50 persen yang dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara dan bensin.