Namun, di masa pemerintahan Utsman, wilayah Islam sudah sangat luas. Perbedaan dialek antar daerah menimbulkan keragaman bacaan yang berpotensi memicu perselisihan. Maka Utsman membentuk tim yang dipimpin Zaid bin Tsabit untuk menyalin mushaf Hafshah. Salinan tersebut disebar ke berbagai wilayah Islam, sementara mushaf lain yang menyelisihi standar tersebut dimusnahkan.
Langkah visioner ini menyelamatkan umat dari perpecahan, hingga hari ini kita masih membaca mushaf hasil standarisasi di masa beliau.
Masa Kekhalifahan
Setelah wafatnya Umar bin Khattab pada tahun 644 M, Utsman r.a. terpilih sebagai khalifah melalui musyawarah yang ditunjuk Umar. Beliau memimpin selama 12 tahun—masa terpanjang di antara Khulafaur Rasyidin.
Di masa pemerintahannya, wilayah Islam semakin meluas:
- Persia dan sebagian wilayah Khorasan (Afghanistan modern) berhasil ditaklukkan.
- Armada laut dibentuk untuk menaklukkan Siprus dan Rhodes.
- Infrastruktur di Madinah dan Makkah diperbaiki, termasuk perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram, serta pembangunan jalan, jembatan, kanal, dan sumur.
Fitnah dan Wafatnya
Namun, menjelang akhir pemerintahannya, fitnah mulai bermunculan. Sejumlah kelompok dari Mesir, Irak, dan Syam menuduhnya melakukan nepotisme dan penyimpangan. Utsman menolak untuk turun jabatan, dengan alasan tidak ingin mencabut baiat umat kepadanya, juga enggan menumpahkan darah kaum muslimin demi mempertahankan kekuasaan.